id Indonesian en English
Previous Next

Muria Podcast, Suasana Ramadan di UMK dan Luar Negeri

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

FKIP UMK - Memasuki pekan pertama di bulan suci Ramadan, Universitas Muria Kudus (UMK) menggelar podcast dengan tajuk "Muria Podcast" yang dibawakan dosen Fakultas Hukum UMK sekaligus Kabag rencana pembangunan (Renbang) Linfokom, Yusuf Istanto, S.H., M.H.

Mengusung tema "Suasana Ramadan di Lingkungan UMK dan Luar Negeri", podcast kali ini dilaksanakan secara hybrid, dengan menghadirkan Rektor UMK Prof. Dr. Ir. Darsono, M.Si., kemudian alumni UMK yang berkiprah di luar negeri, Salman Alfarisi, S.T., M.T. yang saat ini ada di Tokyo Metropolitan University, Japan, serta Trisyanto Prabowo, S.Pd. yang tengah menjalani ibadah puasa di Ohio, Amerika Serikat.

Dalam kesempatan tersebut, rektor UMK menyampaikan, ada suasana khusus di bulan suci Ramadan di tahun ini, di mana terjadi musibah banjir di daerah kudus dan sekitarnya,.

"Saya pribadi atas nama rektor UMK turut prihatin terhadap civitas akademika UMK khususnya yang terdampak banjir. Saat ini, sejumlah mahasiswa, Disaster Response Managemen Center (DRMC) dan ikatan wanita (IW) UMK sudah mulai aktif memberi bantuan kepada warga terdampak banjir," paparnya.

Lebih lanjut, di bulan suci Ramadan kali ini, Prof. Darsono juga mengimbau kepada seluruh civitas akademika UMK, agar sebagai suatu entitas civitas akademika UMK untuk dapat mengaplikasikan ketaqwaan.

"Sehingga adapupuk yang nantinya dapat kian menyuburkan UMK, sehingga harapannya UMK akan semakin tumbuh maju dan menjadi universitas yang Unggul," tegasnya.

Sementara itu, dosen Teknik Industri yang saat ini tengah menempuh pendidikan S3 di Tokyo Metropolitan University, Japan, Salman Alfarisi mengaku, hal yang paling dirindukannya di bulan Ramadan ini ialah suara Adzan. Pasalnya, seperti diketahui, pemerintah Jepang memang tidak memperbolehkan adanya suara adzan yang dikumandangkan secara lantang.

"Satu-satunya yang boleh (dikumandangkan adzan secara lantang) yakni di Masjid Istiqlal yang ada di Osaka yang diresmikan Wakil Presiden Ma'ruf Amin beberapa waktu lalu," jelasnya.

Terkait menu buka puasa, sambung Salman, memang sangat terbatas. Mengingat menu makan yang halal di Japan yang relatif sedikit.

"Tetapi kita di sini juga ada komunitas muslim, ketika ada momen buka bersama itu banyak menu lengkap, mulai dari masakan Indonesia hingga masakan-masakan khas negara muslim lainnya," urainya.

Di sisi lain, salah satu alumni Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UMK yang saat ini bekerja di Asian Food di Ohio, Amerika Serikat menggambarkan suasana Ramadan di Amerika memang sangat berbeda jauh dengan di Indonesia.

"Terlebih untuk salat teraweh, jarak ke masjid terdekat itu bisa sampai 1 jam perjalanan (dengan mengendarai mobil), jadi kita lebih sering salat teraweh baremg keluarga maupun kerabat dan rekan sesama muslim di rumah," pungkasnya. (Arsya - FKIP)